Sabtu, 22 Maret 2014

Apa benar kamu orangnya?

Apa benar kamu orangnya? 
ya kuharap begitu ...

Terimakasih untuk beberapa waktu belakangan ini.
kapan? kapan aku harus menyampaikannya langsung kepadamu.
Semoga, semoga saja rasa ini masih tetap tertanam untuk nanti, dan bahkan selamanya ......

Sabtu, 08 Maret 2014

Mental Praktis: Sistem nilai yang terlalu dini

Beberapa paradigma awam mengatakan "yang penting dahulukan proses" 
ternyata ada benarnya juga.

Mental praktis? entah darimana dan sejak kapan mental tersebut ditanamkan kepada sebagian besar masyarakat Indonesia. Salah satu akibat dari mental praktis ini adalah tentu saja masyarakat Indonesia memiliki mental turunan dari mental praktis yaitu mental "meminta". Implikasi pada dunia kerja, mental meminta mengakibatkan banyaknya orang yang menghidupi dirinya dari negara, bukan menghidupi negara.

Sebagai contoh, salah satu survei yang ditunjukkan oleh Prof. Darsono pada mata kuliah kapita selekta kewirausahaan ternyata hanya 0,2% masyarakat Indonesia yang menjadi "pemberi" atau dengan kata lain menjadi wirausaha. Sementara sisanya? menjadi peminta, baik meminta terhadap 0,2% orang tersebut atau meminta kepada negara dengan menjadi pegawai negeri sipil. Masih dalam survei yang sama, coba bandingkan dengan beberapa negara tetangga seperti Malaysia yang telah mencapai 5%, Singapura 10%, Bahkan Jepang dan Cina masing-masing 80% dan 85% adalah seorang pengusaha.

Pemaparan singkat tentang dunia kerja dan contoh survei wirausaha tentu bukanlah yang menjadi bahasan kali ini. Kita tidak membahas tentang pentingnya berwirausaha dan larangan untuk menjadi pegawai negeri sipil disini. Tapi, lebih kepada apa penyebabnya, dan darimana datangnya mental tersebut?

Sistem nilai yang terlalu dini
Kurikulum pendidikan sekali lagi perlu dikaji ulang, telah banyak opini dan pemikiran dari pakar pendidikan yang mengatakan terdapat beberapa kesalahan sistem pendidikan yang mendasar. Salah satunya, sistem nilai yang telah diterapkan pada jenjang sekolah dasar. 

Taruhlah seorang anak yang pandai dalam bidang Olahraga mendapatkan nilai 9, apakah dia sudah tentu baik dan berbakat di seluruh bidang olahraga? Ada berapa jenis olahraga yang ada di dunia ini? Apa saja yang diujikan di sekolah dasar? Apakah orang tua tahu bakat anak tersebut di bidang olahraga apa? tentu saja tidak.

Contoh lain, seorang anak dipaksa harus mengikuti les tambahan matematika karena mendapatkan nilai jelek di Matematika, 5 misalnya. Lantas, mengapa orang tua hanya berpatokan pada nilai sang anak? Apakah orang tua anak tersebut tahu kurangnya sang anak di bagian mana dari matematika? tentu saja tidak.

Lantas ketika nilai yang dijadikan tujuan, kita tak pernah ada yang tahu standarisasi nilai dari setiap orang bagaimana dan jelas berbeda-beda. Lalu, bagaimana solusinya?

Bagaimana kalau sistem nilai berbasis angka diganti dengan sistem nilai yang sifatnya deskriptif. Maksudnya mendeskripsikan seorang anak di masing-masing pelajaran. Contohnya guru olahraga yg kemudian tidak menciptakan (hanya) nilai 7 - 8 - 9 saja. Coba deskripsikan, anak tersebut pandai bermain sepakbola, atau berpotensi menjadi atlet berbakat dan sebagainya, walaupun terkesan subjektif, tapi sedikit lebih baik ketimbang hanya nilai semata. Atau ketika anak mendapat nilai 5 di matematika, deskripsikan saja kekurangan anak tersebut. Setidaknya itu yg membuat orang tua lebih mengerti.

Padahal sistem nilai sejak dini membuat anak bisa-bisa menjadi minder dan bahkan melakukan segala cara untuk mendapatkan nilai tinggi. Apa akibatnya? yap, bisa jadi anak tersebut melakukan dengan cara yang baik, belajar misalkan, atau? mencontek? ya bisa jadi bukan. Bukan bermaksud lancang, setidaknya coba terapkan sistem ini sampai pada jenjang sekolah dasar, kemungkinan akan menjadi lebih baik ketimbang menggunakan sistem nilai di tengah pertumbuhan anak.

bersambung



Selasa, 18 Februari 2014

Cerita

Banyak hal sebenarnya yg ingin aku ceritakan.
Beberapa diantaranya tentang keinginanku masuk hukum, dan berkaitan pula tentang orang tua ketika melawan idealisnya seorang mahasiswa.
Ada pula cerita tentang sebuah organisasi yang entahlah, aku sudah tak mampu lagi berkata apa-apa.
Serta beberapa cerita lainnya tentang hal-hal menyenangkan tentang Liburan dan pengabdian.
Ada juga tentang buku-buku yang kubaca semasa liburan.
Ada pula gagasanku tentang cita-cita dan kepribadian.
Mungkin tidak kuceritakan saat ini, tapi nanti. 
Akan kuceritakan satu persatu cerita tersebut ...

Jumat, 24 Januari 2014

Bekerja dengan Hati

di saat semua kata liburan meluncur deras dan bersahut-sahutan.
mungkin cuman kita disini yang masih bekerja demi sebuah kepastian.

kepastian untuk mereka yang bertanya-tanya.
dan kepastian untuk mereka yang tak biasa bertanya.

ternyata benar bekerja dengan hati bukan slogan kosong semata.
ia benar-benar bekerja dan melibatkan hati yang begitu besar di dalamnya.

sabar, ikhlas, dan entahlah apa lagi namanya.
ya hanya mereka yang mau bekerja yang akan merasakannya.

kadang banyak yang mencela tempatku yang satu ini kawan.
banyak yang berkata, tidak menghimpun, ekslusif, kebanyakan acara gak guna.
mungkin kemarin iya, aku sepakat dengan mereka.

tapi tidak kali ini, andai mereka melihat kerja para pengabdi ini.
yang bahkan beberapa diantaranya mengeluarkan uang pribadi.
yang bahkan beberapa diantaranya tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan nasib teman-temannya yang lain.
bagaimana denganku? coba tanyakan saja pada orang tuaku dan adikku yang tinggal sendirian di ibukota.

bagiku sekarang hanya anjing yang menggonggong, apabila ia berteriak mencela tanpa berbuat.
aku mulai jatuh cinta dengan pekerjaan ini.

untuk team ku, jangan ragukan kata bekerja dengan hati, ia nyata dan bukan slogan semata.
untuk guru dan kakak-kakakku, terima kasih telah memperkenalkanku dengan dunia ini.
tak perlu ku sebut nama kalian, kelak kalian pun pasti langsung mengerti.